Genre Kehidupan

Posted by | Posted in Academic | Posted on 14-09-2010

Assalamualaikum,

Kepada teman yang selalu mengingatkan dia akan arti hidup yang sebenarnya.

Kehidupan di dunia hanya sementara, bahkan hanya puluhan tahun bahkan bisa lebih lama atau mungkin bisa mengalahkan orang yang terlebih dulu terlahir di dunia.

Sulit memang hidup di dunia yang serba “wah”, bahkan untuk menjaga diri dari hal yang seperti  “itu” sudah cukup membuat hati-hati kita bekerja keras untuk menghindarinya. ( membayangkan bagaimana rasanya dia hidup di zaman Rasullah ? ). Pastinya  “qalbu” ini menginginkan indahnya iman yang telah diberikan cuma-cuma oleh Sang Pencipta hanya untuk dia.

Semua diserahkan kepada diri dia masing-masing,

“maka Dia mengilhamkan kepadanya ( jalan ) kejahatan dan ketaqwaan.” Q.S Asy-Syams : 7.

Kembali kepada diri dia, tak mudah. Tapi dengan semua yang diberikan Allah, dia bisa memilih jalan yang dia anggap benar. Sulit memang membedakan kebenaran dan keburukan di zaman seperti ini. Kehidupan dunia tidak usah dibahas karena dia sedang berada dan sedang menikmati kehidupan ini.

Banyak cara dia menceritakan kehidupan yang fana ini, tergantung keinginan dia apakah akan ber-genre komedi, horror, drama, atau seperti tontonan sinetron yang bisa mengeluarkan air mata hanya saat berakting. Itu dunia, banyak pilihan genre yang bisa mengangkat rating cerita tersebut.

Bagaimana kehidupan setelah  mati nanti ? apakah ada pilihan genre yang bisa dia pilih ?,

Ada, BAHAGIA atau MENDERITA. Hanya dua pilihan yang bisa dia pilih, samar-samar memang. Tapi akan terlihat “nyata” dan “hidup” jika dia memilihnya dengan hati.

Ironisnya pilihan itu hanya bisa dia pilih ketika dia menjalani kehidupan yang  hanya sebentar ini. Apakah cukup bekal ini untuk menghadap Sang Khalik ? Cuma dia yang tahu dan mengerti kehidupan yang dia jalani.

Masih bingung bagaimana caranya bisa membantu dia untuk memilih pilihan yang tepat, atau dia sudah memilih jalan yang diidam-idamkan makhluk lainnya ?.

Allah Maha Mengetahui,

Ramadhan, 28

ketika kita tidak bersama lagi…

Posted by | Posted in Academic | Posted on 18-07-2010

,dari seorang sahabat…

“Untuk semua temanku …”
Dahulu kita bersama,saling mengingatkan akan pentingnya shalat berjamaah di mushalla samping kontrakan kita. Namun selepas hari itu, kita semua berpisah dan berpencar ke tempat yang kita anggap nyaman. Tempat baru, suasana baru dan tentunya dengan teman-teman yang baru, walau beberapa dari kita masih dengan d’japanderz.
“Hal yang sangat aku khawatirkan setelah hari perpisahan kita. “
”Akankah kita tetap menjaga shalat berjamaah?.”
Bukan jauh dari mushalla yang menjadi alasan tuk tidak shalat berjemaah. Manakah yang lebih jauh mushalla yang hanya berjarak beberapa meter dibanding surga yang harus melewati jembatan shirat yang jaraknya perjalanan 500 tahun jalan mendaki, 500 tahun jalan menurun, dan 500 tahun jalan mendatar.
Bukan terlelap dalam tidur yang menjadi alasan untuk tidak shalat berjemaah di mushalla. Tidakkah kita melihat teman-teman kita yang telah mendahului kita untuk tertidur hingga waktu entah kapan yaitu di kuburnya. Mereka sudah tidak bisa lagi mengerjakan shalat. Hal yang akan menjadi kerinduan atau penyesalan di kubur nanti, “mengapa dahulu di kala masih di dunia aku lewatkan shalat berjamaah ku hanya tuk tidur beberapa jam, sedangkan kini aku sendiri di ruang yang sempit, gelap, dan terbaring tak berdaya dengan semua penyesalanku,mengapa?”.
Bukan sakit yang menjadi alasan. Kubur dan akhirat jauh lebih sakit teman. Ssakit dunia tidak ada apa-apanya dibanding itu semua.
“Hal yang sangat ku harap dari semua temanku.”
Tuk selalu menjaga shalat berjemaahnya di mushalla atau mesjid. Jangan jadikan hambatan dunia membuat kita tuk tidak ke mesjid karena sesungguhnya hambatan akhirat jauh lebih berat dan lebih panjang. Sesaat melawan hawa nafsu untuk bisa selalu menyempatkan diri shalat berjemaah di mesjid adalah lebih baik. Karena sekalipun seumur hidupnya Rasulullah SAW tidak pernah shalat di rumah, bahkan menjelang sakaratul mautnya pun Nabi SAW tetap menjaga shalat berjemaahnya walau harus jatuh pingsan dan mengulang wudhunya berulang kali.
“Hal yang sangat ku harap dari temanku.”
“Tuk selalu menjaga shalat berjemaahnya di mushalla atau di mesjid. “
Harapku kita semua menjadi Raja di surgaNya yang luasnya lebih luas dari langit dan bumi. Ditemani para bidadari surga yang suci dan selalu perawan, yang selalu menunggu kedatangan lelaki shalih untuk menjadi suaminya. Itulah sebagian kecil dari nikmatNya.
< selesai diketik jam 22.22 wib,12 juli 2010, di ruang TV >