ketika kita tidak bersama lagi…

Posted by | Posted in Academic | Posted on 18-07-2010

,dari seorang sahabat…

“Untuk semua temanku …”
Dahulu kita bersama,saling mengingatkan akan pentingnya shalat berjamaah di mushalla samping kontrakan kita. Namun selepas hari itu, kita semua berpisah dan berpencar ke tempat yang kita anggap nyaman. Tempat baru, suasana baru dan tentunya dengan teman-teman yang baru, walau beberapa dari kita masih dengan d’japanderz.
“Hal yang sangat aku khawatirkan setelah hari perpisahan kita. “
”Akankah kita tetap menjaga shalat berjamaah?.”
Bukan jauh dari mushalla yang menjadi alasan tuk tidak shalat berjemaah. Manakah yang lebih jauh mushalla yang hanya berjarak beberapa meter dibanding surga yang harus melewati jembatan shirat yang jaraknya perjalanan 500 tahun jalan mendaki, 500 tahun jalan menurun, dan 500 tahun jalan mendatar.
Bukan terlelap dalam tidur yang menjadi alasan untuk tidak shalat berjemaah di mushalla. Tidakkah kita melihat teman-teman kita yang telah mendahului kita untuk tertidur hingga waktu entah kapan yaitu di kuburnya. Mereka sudah tidak bisa lagi mengerjakan shalat. Hal yang akan menjadi kerinduan atau penyesalan di kubur nanti, “mengapa dahulu di kala masih di dunia aku lewatkan shalat berjamaah ku hanya tuk tidur beberapa jam, sedangkan kini aku sendiri di ruang yang sempit, gelap, dan terbaring tak berdaya dengan semua penyesalanku,mengapa?”.
Bukan sakit yang menjadi alasan. Kubur dan akhirat jauh lebih sakit teman. Ssakit dunia tidak ada apa-apanya dibanding itu semua.
“Hal yang sangat ku harap dari semua temanku.”
Tuk selalu menjaga shalat berjemaahnya di mushalla atau mesjid. Jangan jadikan hambatan dunia membuat kita tuk tidak ke mesjid karena sesungguhnya hambatan akhirat jauh lebih berat dan lebih panjang. Sesaat melawan hawa nafsu untuk bisa selalu menyempatkan diri shalat berjemaah di mesjid adalah lebih baik. Karena sekalipun seumur hidupnya Rasulullah SAW tidak pernah shalat di rumah, bahkan menjelang sakaratul mautnya pun Nabi SAW tetap menjaga shalat berjemaahnya walau harus jatuh pingsan dan mengulang wudhunya berulang kali.
“Hal yang sangat ku harap dari temanku.”
“Tuk selalu menjaga shalat berjemaahnya di mushalla atau di mesjid. “
Harapku kita semua menjadi Raja di surgaNya yang luasnya lebih luas dari langit dan bumi. Ditemani para bidadari surga yang suci dan selalu perawan, yang selalu menunggu kedatangan lelaki shalih untuk menjadi suaminya. Itulah sebagian kecil dari nikmatNya.
< selesai diketik jam 22.22 wib,12 juli 2010, di ruang TV >

Comments posted (5)

  1. …God gives light in your hearts, always keep it

  2. suwun

  3. i really like it…
    siapa po yang bikin…?

  4. like this ^_^

  5. siapa lagi klo bukan abdi…

Post a comment